Senin, 05 Juli 2021

PROSES PEMBONGKARAN Mesin CNC F13 Mesin yang akan dipakai Bongkar Pasang Mesin yang akan dibongkar pasang kali ini adalah mesin CNC F13. Pembongkaran yang dilakukan hanya pada bagian bed / meja mesin CNC F13 Alat yang digunakan 1. Dial Indicator 2. Holder dial 3. Kunci Pas 1 set 4. Kunci L 1 set 5. Liftrer 6. Palu plastik 7. Klem 8. Paralel pad 9. Obeng plus (+) 10. Obeng minus (-) Proses Pengambilan Data 1. Pelajari Manual Book Manual Book merupakan petunjuk penggunaan mesin, biasanya terdapat spesifikasi teknis, dimensi mesin, kelistrikan, kontruksi mesin, dsb. Seperti hal nya mesin CNC F13, mesin ini yang dibuat tanpa ditunjangi dengan manual book, hal ini bisa saja menghambat proses bongkar pasang mesin. Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut : a. Lihat dan pelajari kontruksi mesin. b. Hubungi instansi – instansi yang memiliki mesin yang sama. c. Bertanya pada orang yang berpengalaman. d. Buat manual book sendiri 2 Kondisi Awal Mesin Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi awal yang akan dijadikan acuan minimum saat proses pemasangan komponen mesin (kondisi akhir). Kondisi awal mesin CNC F13 sebelum dilakukan pembongkaran mesin sudah kotor, banyak chips/beram serta oli yang sudah kotor. Selain itu juga baut yang terdapat pada mesin tidak rapi dan sudah tidak bagus, sehingga beberapa baut harus diganti dengan yang lebih bagus. 3 Membuat Opration Plan Hal ini bertujuan agar pada saat eksekusi, tidak terjadi kesalahan dan mengefisiensikan waktu karena bekerja sesuai urutan yang benar. 4 Kalibrasi Mesin Kalibrasi merupakan kegiatan menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang telusur ke standar ukur nasional maupun internasional dan bahan – bahan acuan tersertifikasi. Tujuan dari kalibrasi mesin saat proses bongkar pasang yaitu berfungsi untuk menjaga dan meningkatkankualitas kerja suatu mesin Proses Pembongkaran Bongkar merupakan suatu proses pemisahan / pelepasan komponen – komponen suatu mesin. Pada mesin CNC F13, proses pembongkaran bed / meja adalah sebagai berikut: 1. Membongkar cover mesin;
2. Melepas selang oli yang terhubung dengan meja
3. Melepas kabel yang terhubung;
4. Melepas motor pada sumbu x;
5. Melepas motor pada sumbu y; 6. Kalibrasi sumbu x dan sumbu y;
Sumbu X Sumbu Y 7. Melepas dudukan bearing terhadap poros transportir sumbu x;
8. Melepas bed / meja mesin;
9. Melepas dudukan bearing terhadap poros transportir sumbu y;
10. Melepas landasan meja sumbu x
Proses Pembersihan Komponen Hal ini dilakukan dengan tujuan menghilangkan beram / kotoran yang dapat mengurangi akurasi mesin sesaat setelah dipasang dan digunakan. Proses Pemasangan (Assembly) Untuk proses pemasangan itu sendiri dilakukan dengan urutan terbalik dengan pembongkarannya. Hal yang harus diperhatikan saat proses pemasangan adalah penambahan pelumas pada bagian yang memiliki kontak langsung/ bergesekan, penempatan komponen yang sesuai seperti sebelum dibongkar, proses mengencangan baut, serta melakukan kalibrasi setelah semua terpasang (untuk mengetahui kondisi akhir). Adapun urutan pemasangan bed / meja mesin CNC F13, diantaranya: 1. Memasang landasan meja sumbu x; 2. Memasang dudukan bearing terhadap poros ulir transportir sumbu y; 3. Memasang bed / meja mesin 4. Memasang dudukan bearing terhadap poros ulir transportir sumbu x; 5. Kalibrasi sumbu x dan sumbu y; 6. Memasang motor sumbu y; 7. Memasang motor sumbu x; 8. Menghubungkan kabel pada tempat semula; 9. Menghubungkan selang oli dengan meja; 10. Memasang cover mesin. DAFTAR PUSTAKA https://pdfcoffee.com/makalah-bongkar-pasang-mesin-disusun-oleh-pdf-free.html

Rabu, 07 Oktober 2020

Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

 

A.    Alat Standar K3 Penunjang dalam Pekerjaan Pada Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

1.      Tangga

Jatuh dari ketinggian merupakan penyebab utama kematian para pekerja konstruksi dan kontraktor dan penggunaan tangga yang tidak tepat merupakan penyebab utama jatuh dari ketinggian.

2.      Full Body Harness

Full body harness berfungsi sebagai alat pelindung jatuh perseorangan saat bekerja di ketinggian dan penggunaannya lebih dianjurkan dibanding safety beltterutama jika Anda bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter.

Hal ini dikarenakan full body harness memiliki kelebihan dengan tali pengaman yang bisa melindungi seluruh tubuh pekerja sehingga kemungkinan cedera akibat hentakan saat jatuh sangat kecil. Sayangnya meski manfaatnya sangat besar sebagai alat pelindung jatuh, masih banyak pekerja yang mengabaikan penggunaannya, mulai dari cara penggunaan, pemeriksaan, hingga perawatannya. Penyebabnya bisa karena kurangnya pengetahuan, pelatihan, atau pengalaman pekerja.

3.      Perancah

Menurut Occupational Safety and Health Administration(OSHA), diperkirakan sekitar 2,3 juta pekerja konstruksi melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan perancah. Dengan begitu, banyak juga pekerja yang berpotensi mengalami sejumlah bahaya terkait perancah seperti terjatuh, tertimpa jatuhan benda, dan tersengat aliran listrik. Dengan banyaknya pekerja yang berpotensi terkena bahaya saat menggunakan perancah, maka penerapan keselamatan penggunaan perancah perlu menjadi prioritas. Perancah harus dipasang oleh pekerja yang ahli di bawah pengawasan orang yang kompeten dan perancah telah diperiksa dengan benar sebelum digunakan. Perancah yang sesuai dan aman harus disediakan untuk semua pekerjaan berisiko tinggi saat bekerja di ketinggian.

4.      Pelindung Kepala

·      Helm proyek harus standar ANSI Z.89.1-2014 atau minimal standar SNI atau MSA Import.

·   Model helm adalah V-Guard dan dilengkapi dengan tali dagu karet serta model otomatis untuk mengencangkan suspensi helm.

·     Helm dilarang untuk dicat (karena akan bersenyawa dengan cat) dan dilarang ditulis dengan spidol.

·     Catat tanggal pembelian pada bagian dalam helm dan di buku catatan.

·     Masa pakai helm paling lama adalah 5 tahun setelah itu harus diganti baru.

·     Helm yang rusak atau terkena dampak (kejatuhan benda) harus diganti.

·      Cek kondisi helm minimal setiap 2 minggu sekali, ganti bila cacat atau rusak.

5.      Pelindung Kaki

·    Sepatu keselamatan harus standar ANSI Z.41-1999 atau minimal standar SNI 7079-2009 dan SNI 0111-2009.

·       Sepatu untuk pekerjaan galian dan pengecoran dapat digunakan sepatu karet biasa

·    Sepatu untuk pekerjaan konstruksi lain harus menggunakan sepatu dengan pelindung jari yang terbuat dari baja, dan anti tergelincir (gamb. 2).

·       Catat tanggal pembelian pada buku catatan.

·       Masa pakai sepatu paling lama adalah 3 tahun, setelah itu harus diganti baru.

·       Cek kondisi sepatu minimal setiap 2 minggu sekali, ganti bila cacat atau rusak.

6.      Pelindung Mata

·         Semua pekerja dan orang yang memasuki proyek harus menggunakan pelindung mata.

·      Pelindung standar adalah kacamata pengaman Kings KY1151 sesuai standar ANSI Z.87.1-2010

·   Pekerjaan yang berbahaya terhadap mata, seperti pengelasan, pemotongan, dan gerinda harus menggunakan pelindung mata yang sesuai.

·       Pekerjaan pemotongan tiang pancang harus menggunakan pelindung mata

B.     Jenis Bahaya yang Terdapat Pada Pekerja Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

Jenis bahaya yang akan dialami pekerja bila pekerja bertindak tidak aman dan tidak menggunakan APD adalah sebagai berikut:

a.       Kepala terbentur

b.      Anggota tubuh terluka

c.       Terjepit

d.      Gangguan pernafasan

e.       Gangguan penglihatan

f.       Gangguan pendengaran

g.      Terjatuh dari ketinggian

h.      Meninggal dunia


C.    Penyebab yang mungkin menyebabkan kecelakaan kerja

a.    Kurang disiplinnya pekerja dalam mengikuti SOP yang ada. Hal ini disebabkan oleh kelalaian tersendiri oleh para pekerja.

b.   Rendahnya kesadaran dan pengetahuan akan keselamatan kerja yang disebabkan oleh kurang maksimalnya pelaksanaan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentang penggunaan APD. Pelaksanaan pelatihan tersebut sebetulnya sudah terjadwal, hanya saja target peserta pelatihan tersebut kurang maksimal dan peserta yang diundang untuk menghadiri pelatihan tersebut tidak menunjukkan antusiasme untuk menghadiri pelatihan tersebut sehingga peserta pelatihan yang hadir selalu tidak pernah lengkap. Tentu saja hal ini berdampak pada tingginya intensitas kemunculan bahaya yang disebabkan oleh sikap pekerja yang tidak memenuhi persyaratan standard dalam keselamatan kerja dan prosedur bekerja yang baik sehingga dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan pekerja.

c.  Terlalu merasa percaya diri akan kemampuan. Maksudnya para pekerja terlalu yakin akan kemampuan nya sendiri sehingga sampai melalaikan APD yang akan menyebabkan kerugian untuk dirinya sendiri.

 

D.    Cara penanggulangan kecelakaan kerja

a.       Melakukan breafing K3 untuk mengingatkan pekerja agar selalu menggunakan APD.

b.      Membuat prosedur kerja (SOP) yang baik.

c.       Melakukan pelatihan K3 kepada para pekerja secara menyeluruh dan berkesinambungan.

 

E.     Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat pada materi ini yaitu APD sangat dibutuhkan pada pekerja untuk keselamatan pada pekerjaan, APD  yang biasa digunakan pada proses pembangunan gedung bertingkat yaitu Full Body Harness, helm safety, sepatu safety, kacamata safety dan alat penunjang lainnya seperti tangga karena tangga menjadi sumber kecelakaan yang paling besar yang dikarenakan penggunaan tangga yang tidak tepat, dan juga alat perancah yang menjadi alat penunjang prioritas dan Perancah harus dipasang oleh pekerja yang ahli di bawah pengawasan orang yang kompeten dan perancah telah diperiksa dengan benar sebelum digunakan.

Beberapa jenis kecelakaan yang dialami pekerja jika tidak menggunakan atau salah penggunaan dalam memakai APD yaitu: Kepala terbentur, Anggota tubuh terluka, Terjepit, Gangguan pernafasan, Gangguan penglihatan, Gangguan pendengaran, Terjatuh dari ketinggian dan Meninggal dunia

Penyebab kecelakaan kerja pada pekerja yaitu: Kurang disiplinnya pekerja dalam mengikuti SOP yang ada, Rendahnya kesadaran dan pengetahuan akan keselamatan kerja dan para pekerja terlalu merasa percaya diri akan kemampuan sehingga mengabaikan APD dan prosedur SOP yang ada.

   Beberapa cara penanggulangan kecelakaan kerja yaitu : Melakukan breafing K3 sebelum pekerjaan dimulai, membuat SOP kerja yang baik untuk menghindari kecelakaan kerja, dan melakukan pelatihan K3 pada seluruh pekerja agar pekerja lebih memperhatikan keselamatan dirinya pada saat melakukan pekerjaan.




Daftar Pustaka

  1. PENERAPAN PROGRAM K3 PADA PEMBANGUNAN GEDUNG TINGGI DI KOTA PONTIANAK (online), Tersedia: https://media.neliti.com/media/publications/191880-ID-penerapan-program-k3-pada-pembangunan-ge.pdf (07 Oktober 2020)

PROSES PEMBONGKARAN Mesin CNC F13 Mesin yang akan dipakai Bongkar Pasang Mesin yang akan dibongkar pasang kali ini adalah mesin CNC F13. Pem...