Rabu, 07 Oktober 2020

Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

 

A.    Alat Standar K3 Penunjang dalam Pekerjaan Pada Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

1.      Tangga

Jatuh dari ketinggian merupakan penyebab utama kematian para pekerja konstruksi dan kontraktor dan penggunaan tangga yang tidak tepat merupakan penyebab utama jatuh dari ketinggian.

2.      Full Body Harness

Full body harness berfungsi sebagai alat pelindung jatuh perseorangan saat bekerja di ketinggian dan penggunaannya lebih dianjurkan dibanding safety beltterutama jika Anda bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter.

Hal ini dikarenakan full body harness memiliki kelebihan dengan tali pengaman yang bisa melindungi seluruh tubuh pekerja sehingga kemungkinan cedera akibat hentakan saat jatuh sangat kecil. Sayangnya meski manfaatnya sangat besar sebagai alat pelindung jatuh, masih banyak pekerja yang mengabaikan penggunaannya, mulai dari cara penggunaan, pemeriksaan, hingga perawatannya. Penyebabnya bisa karena kurangnya pengetahuan, pelatihan, atau pengalaman pekerja.

3.      Perancah

Menurut Occupational Safety and Health Administration(OSHA), diperkirakan sekitar 2,3 juta pekerja konstruksi melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan perancah. Dengan begitu, banyak juga pekerja yang berpotensi mengalami sejumlah bahaya terkait perancah seperti terjatuh, tertimpa jatuhan benda, dan tersengat aliran listrik. Dengan banyaknya pekerja yang berpotensi terkena bahaya saat menggunakan perancah, maka penerapan keselamatan penggunaan perancah perlu menjadi prioritas. Perancah harus dipasang oleh pekerja yang ahli di bawah pengawasan orang yang kompeten dan perancah telah diperiksa dengan benar sebelum digunakan. Perancah yang sesuai dan aman harus disediakan untuk semua pekerjaan berisiko tinggi saat bekerja di ketinggian.

4.      Pelindung Kepala

·      Helm proyek harus standar ANSI Z.89.1-2014 atau minimal standar SNI atau MSA Import.

·   Model helm adalah V-Guard dan dilengkapi dengan tali dagu karet serta model otomatis untuk mengencangkan suspensi helm.

·     Helm dilarang untuk dicat (karena akan bersenyawa dengan cat) dan dilarang ditulis dengan spidol.

·     Catat tanggal pembelian pada bagian dalam helm dan di buku catatan.

·     Masa pakai helm paling lama adalah 5 tahun setelah itu harus diganti baru.

·     Helm yang rusak atau terkena dampak (kejatuhan benda) harus diganti.

·      Cek kondisi helm minimal setiap 2 minggu sekali, ganti bila cacat atau rusak.

5.      Pelindung Kaki

·    Sepatu keselamatan harus standar ANSI Z.41-1999 atau minimal standar SNI 7079-2009 dan SNI 0111-2009.

·       Sepatu untuk pekerjaan galian dan pengecoran dapat digunakan sepatu karet biasa

·    Sepatu untuk pekerjaan konstruksi lain harus menggunakan sepatu dengan pelindung jari yang terbuat dari baja, dan anti tergelincir (gamb. 2).

·       Catat tanggal pembelian pada buku catatan.

·       Masa pakai sepatu paling lama adalah 3 tahun, setelah itu harus diganti baru.

·       Cek kondisi sepatu minimal setiap 2 minggu sekali, ganti bila cacat atau rusak.

6.      Pelindung Mata

·         Semua pekerja dan orang yang memasuki proyek harus menggunakan pelindung mata.

·      Pelindung standar adalah kacamata pengaman Kings KY1151 sesuai standar ANSI Z.87.1-2010

·   Pekerjaan yang berbahaya terhadap mata, seperti pengelasan, pemotongan, dan gerinda harus menggunakan pelindung mata yang sesuai.

·       Pekerjaan pemotongan tiang pancang harus menggunakan pelindung mata

B.     Jenis Bahaya yang Terdapat Pada Pekerja Proses Pembangunan Gedung Bertingkat

Jenis bahaya yang akan dialami pekerja bila pekerja bertindak tidak aman dan tidak menggunakan APD adalah sebagai berikut:

a.       Kepala terbentur

b.      Anggota tubuh terluka

c.       Terjepit

d.      Gangguan pernafasan

e.       Gangguan penglihatan

f.       Gangguan pendengaran

g.      Terjatuh dari ketinggian

h.      Meninggal dunia


C.    Penyebab yang mungkin menyebabkan kecelakaan kerja

a.    Kurang disiplinnya pekerja dalam mengikuti SOP yang ada. Hal ini disebabkan oleh kelalaian tersendiri oleh para pekerja.

b.   Rendahnya kesadaran dan pengetahuan akan keselamatan kerja yang disebabkan oleh kurang maksimalnya pelaksanaan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentang penggunaan APD. Pelaksanaan pelatihan tersebut sebetulnya sudah terjadwal, hanya saja target peserta pelatihan tersebut kurang maksimal dan peserta yang diundang untuk menghadiri pelatihan tersebut tidak menunjukkan antusiasme untuk menghadiri pelatihan tersebut sehingga peserta pelatihan yang hadir selalu tidak pernah lengkap. Tentu saja hal ini berdampak pada tingginya intensitas kemunculan bahaya yang disebabkan oleh sikap pekerja yang tidak memenuhi persyaratan standard dalam keselamatan kerja dan prosedur bekerja yang baik sehingga dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan pekerja.

c.  Terlalu merasa percaya diri akan kemampuan. Maksudnya para pekerja terlalu yakin akan kemampuan nya sendiri sehingga sampai melalaikan APD yang akan menyebabkan kerugian untuk dirinya sendiri.

 

D.    Cara penanggulangan kecelakaan kerja

a.       Melakukan breafing K3 untuk mengingatkan pekerja agar selalu menggunakan APD.

b.      Membuat prosedur kerja (SOP) yang baik.

c.       Melakukan pelatihan K3 kepada para pekerja secara menyeluruh dan berkesinambungan.

 

E.     Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat pada materi ini yaitu APD sangat dibutuhkan pada pekerja untuk keselamatan pada pekerjaan, APD  yang biasa digunakan pada proses pembangunan gedung bertingkat yaitu Full Body Harness, helm safety, sepatu safety, kacamata safety dan alat penunjang lainnya seperti tangga karena tangga menjadi sumber kecelakaan yang paling besar yang dikarenakan penggunaan tangga yang tidak tepat, dan juga alat perancah yang menjadi alat penunjang prioritas dan Perancah harus dipasang oleh pekerja yang ahli di bawah pengawasan orang yang kompeten dan perancah telah diperiksa dengan benar sebelum digunakan.

Beberapa jenis kecelakaan yang dialami pekerja jika tidak menggunakan atau salah penggunaan dalam memakai APD yaitu: Kepala terbentur, Anggota tubuh terluka, Terjepit, Gangguan pernafasan, Gangguan penglihatan, Gangguan pendengaran, Terjatuh dari ketinggian dan Meninggal dunia

Penyebab kecelakaan kerja pada pekerja yaitu: Kurang disiplinnya pekerja dalam mengikuti SOP yang ada, Rendahnya kesadaran dan pengetahuan akan keselamatan kerja dan para pekerja terlalu merasa percaya diri akan kemampuan sehingga mengabaikan APD dan prosedur SOP yang ada.

   Beberapa cara penanggulangan kecelakaan kerja yaitu : Melakukan breafing K3 sebelum pekerjaan dimulai, membuat SOP kerja yang baik untuk menghindari kecelakaan kerja, dan melakukan pelatihan K3 pada seluruh pekerja agar pekerja lebih memperhatikan keselamatan dirinya pada saat melakukan pekerjaan.




Daftar Pustaka

  1. PENERAPAN PROGRAM K3 PADA PEMBANGUNAN GEDUNG TINGGI DI KOTA PONTIANAK (online), Tersedia: https://media.neliti.com/media/publications/191880-ID-penerapan-program-k3-pada-pembangunan-ge.pdf (07 Oktober 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROSES PEMBONGKARAN Mesin CNC F13 Mesin yang akan dipakai Bongkar Pasang Mesin yang akan dibongkar pasang kali ini adalah mesin CNC F13. Pem...